Sedikit pengalaman sekitar pseudotumor mata atau disebut pseudotumor orbita di poliklinik mata. Begini ni ceritannya. Ini terjadi beberapa tahun yang lalu, mengingatkan beberapa minggu yang lalu mendapatkan kasus yang sama
Pas sampai poliklinik mata, ternyata masih ada seorang pasien yang terlihat matanya menonjol sebesar kepalan tangan bayi, melotot dan menyeramkan, Wah pasien tumor yang sudah besar nih,. padahal poliklinik Rumah Sakit Ciawi Bogor sudah hening tinggal petugas yang sedang membersihkan lantai ruangan.
Hari kamis siang itu, waktu menunjukkan jam 3 an sore, cuaca begitu cerah setelah keluar dari kamar operasi. Bergegas segera menuju poliklinik sambil merapikan baju yang tampak belum semuanya masuk kedalam pinggang celana. Rupanya semakin siang lingkar perut semakin kecil. Sebagai tanda perut belum terisi optimal. Tak hanya itu, badanpun leher terasa kaku setelah operasi dengan menggunakan mikroskop. Pegel leher..!
Pasien duduk dengan kaki yang diangkat ke kursi itu segera menurunkan kakinya ketika saya masuk.
Kasihan juga melihat pasien yang sudah menunggu walaupun pelayanan poliklinik sudah tutup.
Akhirnya saat itu saya mendapatkan informasi bahwa :
* pasien itu menunggu dokter sampai operasi selesai, penderita datang dari Cililitan Jakarta menggunakan bus dari Jakarta jurusan Sukabumi katanya.
* penderita seorang penjual buah buahan kaki lima, beberapa waktu ini jualannya tidak laku. Ia merasa bahwa pembeli merasa ketakutan melihat wajahnya dengan mata menonojol mengerikan.
* ia dan pengantarnya dibebaskan membayar ongkos bus karena kondektur merasa iba melihat tumor mata yang sebesar itu,
* tumor mata itu mula mulanya kecil, semakin lama semakin membesar, mata menjadi menonjol kelopak mata sulit ditutup, sering disertai rasa sakit, pernah diobati menggunakan tetes mata dan salep mata tidak ada perubahan, dan pernah memeriksakan ke tiga Rumah Sakit yang dekat dengan rumahnya, tetapi tumor tidak kunjung mengecil bahkan penderita tidak mampu untuk membayar karena disarankan untuk pemeriksaan CT scan. Pasien bilang : " harus diseken "
Penderita tumor mata itu dilakukan anamnesa, diperiksa keadaan matanya didapatkan penonjolan mata- eksophtalmos, pembengkakan selaput mata - ekimosis, kelopak mata sulit untuk menutup dan rasa sakit. Diberikan formulir untuk pemeriksaan laboratorium. Saat itu diagnosa kemungkinan adalah pseudotumor dengan diagnosa banding keganasan. Kemudian diberikan satu macam resep dengan dosis tinggi. Dengan harapan mudah mudahan tumor itu sebagai pseudotumor mata. Walaupun harusnya diperiksa USG, CT Scan- biayanya besar, Biopsi mengambil jaringan untuk pemeriksaan secara mikroskopis.
Ketika menerima resep itu penderita menanyakan perkiraan harga obat yang diberikan. Tentunya saya tidak tahu berapa harganya, tetapi pikir saya tidak mahal karena yang diberikan obat generik.
Penderita dengan polosnya mengatakan tidak mempunyai uang untuk membeli obat dan ia mengatakan bahwa datang ke RS menggunakan bus tidak membayar.
Saya meminta tolong asisten saya untuk membelikan obat ke apotik RS dan segera diberikan ke penderita.
Lima hari kemudian datang kembali ke poliklinik mata ternyata penderita tampak tumor mengecil, kelopak mata sudah dengan mudah ditutupkan, tidak terasa sakit.
Wah ikut rasa senang penderita sementara dapat ditentukan bahwa ia menderita pseudotumor mata.
Serta dapat memberikan pengobatan lanjutan agar penderita dapat kembali seperti biasa.
Rasa haru dan rasa senang melihat perkembangan tumor matanya. Rupanya ia akan memberikan lembaran lembaran uang yang dikeluarkan dari saku celananya, ingin memberikan sebagai ganti pemebelian obat yang telah saya berikan. Menanyakan berapa yang harus ia ganti, kali ini mengatakan bahwa ia mempunyai uang dari teman teman seprofesinya sebagi penjual buah buahan. Urunan lho katanya.... wah masih ada juga ya solidaritas antar sesama profesi.
Empat minggu kemudian pasien pseudotumor mata itupun datang kembali dengan mata yang bentuknya seperti mata sebelahnya, setelah mendapatkan pengobatan penurunan dosis secara bertahap.
" Dok ... ini saya bawakan mangga ... Mangga manis niyyh "
rudy soedjono